Pemkab Pinrang Kunjungi Area Persawahan Yang Kekeringan

Insannews Pinrang, – Pemerintah Kabupaten Pinrang, melalui Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Dinas Sumber Daya Air dan Bina Konstruksi (SDABK), telah mengevaluasi situasi kritis yang melanda area persawahan di Kelurahan Langnga.

Sebuah krisis kekeringan telah menyebabkan ratusan hektar lahan persawahan di Kelurahan Langnga, Kecamatan Mattiro Sompe, Kabupaten Pinrang, terdampak parah. Tanaman padi yang baru berumur tujuh hari telah mengalami kekeringan dan mati.

“Kami telah turun langsung untuk meninjau situasi ini. Alhamdulillah, air akhirnya telah sampai ke area persawahan yang mengalami kekeringan,” ujar Kepala Dinas Tanaman Pangan Pinrang, Andi Tjalo Kerrang, pada Rabu (16/08/23).

Andi Tjalo Kerrang menjelaskan bahwa area persawahan di Kelurahan Langnga sebelumnya mengalami alih fungsi lahan dari tambak menjadi sawah. Namun, proses pengalihan air tawar melalui irigasi terkendala oleh tingginya debit tanah yang mengakibatkan perbedaan level dengan aliran air.

“Dengan perubahan fungsi tambak menjadi sawah, ketersediaan air ke area tersebut menjadi sulit. Petani di sana terpaksa menggunakan alat pompanisasi untuk mengalirkan air,” jelasnya.

Terkait kondisi saat ini, Andi Tjalo Kerrang menyatakan bahwa situasi telah mengalami perbaikan dan Bupati Pinrang memberikan arahan serta dukungan maksimal bagi masyarakat terdampak.

Sebelumnya, berita tentang kekeringan di area lahan persawahan Kelurahan Langnga telah mengemuka. Kondisi tersebut disebabkan oleh fenomena El Nino atau musim kemarau yang berkepanjangan. Informasi dari sumber lokal menyebutkan lebih dari 200 hektar lahan persawahan di Kelurahan Langnga terdampak oleh kekeringan ini.

Abdul Rasyid, seorang petani setempat, mengungkapkan, “Kira-kira ada 200 hektar lebih area sawah petani yang terkena dampak kekeringan. Ini akibat kekurangan pasokan air.” Hal ini telah menyebabkan banyak petani merugi, dengan tanaman padi yang ditanam selama tujuh hari layu dan mati akibat kondisi ini.

Rasyid juga menggarisbawahi kendala utama yang dihadapi para petani di area tersebut, yaitu saluran irigasi yang belum sampai ke lahan persawahan mereka. Area ini mengalami alih fungsi dari tambak udang menjadi sawah, sehingga petani mengandalkan air hujan dan pompanisasi dari sungai sebagai sumber air.

Kurangnya bantuan dari penyuluh pertanian juga menjadi masalah serius. Rasyid menekankan bahwa pendampingan tersebut sangat penting dalam menghadapi masalah pertanian seperti yang sedang dihadapi saat ini.

Menanggapi situasi ini, Kepala Bidang Irigasi Pedesaan Dinas SDABK Kabupaten Pinrang, Husni Nakka, menjelaskan bahwa belum adanya saluran irigasi yang memadai disebabkan perubahan fungsi area tersebut dari tambak udang menjadi sawah. Pihak terkait berencana melakukan kunjungan untuk mengevaluasi kondisi persawahan dan merencanakan langkah-langkah yang lebih lanjut.(*/)