” Tanpa Allah kita bukan apa-apa” Ujar Khabib Nurmagomedov usai Membantai Conor McGragor di Ajang Ultimate Fighting Championship (UFC) 229

Kami adalah umat yang di didik bagai lebah. Dia memakan yang baik, mengeluarkan yang baik, berucap yang baik, bertingkah yang baik saja.

Hinggap namun tak memecah, bersandar tenang tak mematah, serta diam tak memulai perkara. Namun jangan kau sekali-kali menganggu lebah

Sang Pendidik terpuji mencontohi, satu sikap ksatria yang perlu kita junjung hingga saat ini

Demi Allah, beliau tidak pernah marah karena urusan pribadi, tapi jika ajaran Allah dilanggar maka beliau menjadi marah karena Allah (lillah).” (HR. Bukhari)

Pantang mundur kala Islam dihina! “apabila kebenaran itu didustakan dan ditentang, beliau akan marah tanpa ada seorangpun yang bisa tegak dihadapan kemarahan beliau, sehingga beliau memenangkan Kebenaran itu baginya.”(HR. Muslim).

Inilah kami, umat terdidik dengan segenap rasa pencemburu para ksatria. Rasa cemburu (ghiroh) dalam konteks beragama adalah konsekuensi dari Iman itu sendiri

Orang yang beriman akan tersinggung jika agamanya dihina, bahkan agamanya itu akan didahulukan daripada keselamatan dirinya sendiri. Ini pertanda masih adanya ghiroh didalam dirinya

Bangsa penjajah pun telah mengerti tabiat Umat Islam yang semacam ini.

Ini pertanda masih adanya ghiroh didalam dirinya

Jika agamamu, nabimu, kitabmu dihina dan engkau diam saja, jelaslah ghiroh telah hilang darimu.

Jika ghiroh tidak lagi dimiliki oleh bangsa Indonesia, niscaya bangsa ini akan mudah dijajah oleh asing dari segala sisi.

Jika ghiroh telah hilang dari hati, gantinya hanya satu, yaitu kain kafan. Sebab kehilangan ghiroh hakikatnya sama dengan mati (Hamka)